Bisnis

BPS: Neraca Perdagangan Surplus USD 5,73 M pada Oktober 2021

Badan Pusat Statistik atau BPS mencatat neraca perdagangan Indonesia surplus US$ 5,73 miliar pada Oktober 2021.

“Neraca perdagangan kita di Oktober 2021 tercatat surplus US$ 5,73 M USD. Kalau kita lihat secara tren neraca perdagangan Indonesia ini telah membukukan surplus selama 18 bulan secara beruntun,” kata Kepala BPS Margo Yowono dalam konferensi pers virtual, Senin, 15 November 2021.

Dia menjabarkan nilai ekspor pada Oktober 2021 mencapai US$ 22,03 miliar. Nilai itu naik 6,89 persen dibandingkan September 2021.

“Kinerja ekspor baik secara total maupun non migas 2021 ini lebih baik daripada 2019 dan 2020,” ujarnya.

Dia berharap kinerja ekspor ini bisa dipertahankan untuk tahun-tahun ke depan supaya berdampak pada pemulihan ekonomi Indonesia.

Sedangkan nilai impor pada Oktober 2021 sebesar US$ 16,29 M, naik 0,36 persen dibandingkan dengan September 2021. “Impor lebih tinggi dari dua tahun sebelumnya, kecuali Januari,” ujarnya.

Kalau dilihat dari komoditas penyumbang surplus terbesar adalah dari bahan bakar mineral atau HS27, kemudian lemak dan hewan atau nabati HS15, serta besi dan baja HS72. Sedangkan kalau kita libat negara penyumbang surplus terbesarnya atau tiga terbesar itu adalah Amerika, Cina, dan Filipina.

Dengan Amerika surplus US$ 1,7 miliar, bersumber dark komoditas lemah dan minyah hewan nabati, pakaian dan aksesoris atau rajutan. Dengan Cina surplus US$ 1,3 miliar, di mana komoditas penyebab surplusnya bahan bakar mineral atau HS27, besi dan baja HS 72. Sedangkan dengan Filipina surplus US$ 685,7 juta didominasi komoditas bahan bakan mineral HS27 dan kendaraan dan bagiannya HS87.

Sebaliknya Indonesia mengalami defisit perdagangan dengan Australia US$ 595 juta. Di mana penyebab defisit bahan bakar mineral HS27, biji logam perak dan abu HS26. Defisit ke Thailand US$ 295,6 juta, berasal dari komoditas plastik dan barang dari plastik HS39, dan mesin dan peralatan mekanis serta bagiannya HS84. Defisit ketiga dengan Ukraina sebesar US$ 216,4 juta, disebabkan terbesar dari komoditas serelia HS10 dan besi dan baja HS72.

HENDARTYO HANGGI

Anda mungkin juga suka...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.